here's Bali adat now. At Besakih. Seriously. Those are the stairs
above Penataran Agung. Maybe there's no loss in having Besakih declared a
tourism-priority-zone, after all. If this is how things are, nobody
will notice any difference when it becomes Bali-Dharma-Land Waterboom
and World Wet-T-Shirt Women's Wrestling Center. Sesari by ATM, and
drive-thru BantenMarets can't be far behind. (Gek Kasir: "Ada 'member'
Pak?")
Plus karaoke screens for Panca Sembah, and kidung Tuwun
Tirtha Saking Luhur, and the mantras to menghaturkan banten, too.
Pemangkus at Sad Kahyangan will become Bali's Superstar-DJ-equivalents.
Does Besakih have fast WiFi? Or is it better at Lempuyang? And how's
that "Speed-Dating" Kafe at Pura Ulun Batur doing since the former
Bupati of Bangli set it up before he went to jail for life, followed in
short order by his (presumably) Batam Academy graduate of a wife?
P.S. Check out the wija on this putri cening ayu's forehead. She's so suci, she's too suci for my car, too suci by far.
P.S. I wonder how much the plastic surgery on her nose and boobs and
fish-lips cost? Do you think she would give me the surgeon's private HP
number?
Label
- Bahasa Bali
- Belajar
- berjapa
- bisnis online
- cinta
- English course
- fashion
- Fun Math
- Hindu Universal
- Jalan-jalan ke Bali murah meriah
- kecantikan wanita
- Kedai O'onk
- Kedai O'onk news
- Kesehatan Alami
- Mahabharata
- Masakan Arab
- Masakan Indonesia
- masakan vegetarian
- Motivasi
- oleh-oleh khas Bali
- Pesta
- Pesta Pernikahan
- puisi
- resep masakan jepang
- sastra
- Scient
- suka - suka
- toko kue cs
- tradisi
- tradisi Bali
- Yoga
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan ke Bali murah meriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan ke Bali murah meriah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 September 2014
Upacara medatengan
Om Suastyastu, nawegang napi tetuwek medatengan punika, napi upakara pemucuk ipun, taler ring sor suwang2 canang kepanggih wenten tetandingan ajengan mewadah tamas, napi ngawinang upakarane kegenahang ring tanah, ring sire uleng pengastawane.....ledangang micayang ring titiyang i tambet kelintang punggung purun presangga mepinunas....Sumsma.
Medatengan versi ini tradisi di Pujungan, sebenarnya hanya matur piuning saja, belum ada rangkaian upacara, bahwa purnama mendatang akan piodalan. Medatengan dikenal di Bali selatan saat piodalan berlangsung. Begitu sulinggih selesai ngarga dan mereresik, pemangku medatengan di madya atau jaba atau depan apit surang (tergantung lokasi) dengan tujuan memberi rarapan pada butha yg mungkin mengiringi tirta yg dipendak di berbagai tempat. Butha lalu somya dan sulinggih melanjutkan puja nedunang bethara langsung piodalan. Jadi mrdatengan di Pujungan beda jauh dgn medatengan di tempat lain. Ampura nimbrung.
- Maksud dan tujuan upacara Medatengan tiada lain ..Matur piuning saha nuwur ide betare sane pacang keturin aci/piodalan ..pemucuk upacara Suci penglempana...nasi mewadah tamas mewadah celemik 9 tanding dadi atamas dg tata letak anut pangider..me be rerasmen lan ulam jejatah bawi atau itik..urab barak ..urab putih..melambangkan segala bentuk negatip buta/kala..dl hal ini Bala..datengan....supaya menjadi pengaruh positip/dewa..dg pujanya jr Mangku...canang raka melambangkan dewa dewi...itu yg kita aturin upoacara supaya labdha karye...maaf media ini sulit dipakai untuk penjelasan secara rinci...ampure yening iwang.Medatengan versi ini tradisi di Pujungan, sebenarnya hanya matur piuning saja, belum ada rangkaian upacara, bahwa purnama mendatang akan piodalan. Medatengan dikenal di Bali selatan saat piodalan berlangsung. Begitu sulinggih selesai ngarga dan mereresik, pemangku medatengan di madya atau jaba atau depan apit surang (tergantung lokasi) dengan tujuan memberi rarapan pada butha yg mungkin mengiringi tirta yg dipendak di berbagai tempat. Butha lalu somya dan sulinggih melanjutkan puja nedunang bethara langsung piodalan. Jadi mrdatengan di Pujungan beda jauh dgn medatengan di tempat lain. Ampura nimbrung.
- Mangku dados usul? Purnama Kapat nike rahinan ageng, ring sejeroning pura akeh piodalan. Termasuk mangkin di Pujungan. Tapi di Pujungan aneh, yen ten iwang tiyang, Purnama Kapat itu digunakan sebagai menek base di Bedugul,:-)Dalem dll. Yg dinamakan puncaknya baru esoknya, ke Puncak Kedaton, Manikterus, Batur, Puseh/Bale Agung. Kalao ini disebut puncak, harinya bukan purnama lagi tetapi sudah masuk pengelong pisan. Sepatutnya puncak odalan itu purnama, karena itu hari terbaik. Kalo begitu, menek base majukan ring purwani. Inggih nike usul yg pasti sulit diterima karena orang Pujungan biasanya berprinsip: nak mule keto uli malu, takut ngubah. Suksma.Om Suastyastu, nawegang Ida Mpu Jaya Prema...,antara tradisi dan kebenaran agama dan perubahan waktu/keadaan apakah tidak bisa direviu spt aturan formal Ida ? Kenyataannya beberapa tradisi di desa Pujungan sudah berubah, spt ke Srijong pakai kendaraan termasuk ' nyulubin abangan ' . Di dalam geguritan Lokika ty baca ada 3 sumber pengetahuan sejati, Guru, Sastra, dan Diri sendiri ( Dewek ) yg ty maknai sbg Tradisi. Gabungkan pengetahuan ketiganya lalu saring dg 4 hal yakni, percaya (pengugu), kesungguhan (teleb), ingat (eling), dan WIWEKA (kemampuan menimbang baik-buruk, benar-salah). Dg konsep ini dan dilakukan dg rembug dibawah tuntunan org suci ty rasa tidak ada yg tidak mungkin. Kalimat " nak mula keto " kadang hanya dalih menutupi ketidak tahuan, padahal yang mengucapkan telah berubah banyak dari " mula keto "...suksma, rahayu...
- Om Swastyastu Wayan. Betul banyak tradisi sudah diubah, tetapi kalau menyangkut ritual/upacara banyak pemangku takut, terutama yg lingsir. Entah kalao Jro Mangku Manikterus juga ikut takut. Alasannya nami. Sepatutnya Purnama Kapat sebagai puncak odalan di Puseh/Bale Agung harus tepat, sehingga menek base (munggah sedah) dimajukan dan semua rentetannya jadi maju sehari. Contoh lain yang aneh sekali di Pura Dadya Pasek Baturkikik, dadian tiange. Kalau odalam alit tepat di Pemacekan Agung, kalau piodalan ageng diundur ke Manis Pemacekan Agung. Alasannya nami dari dulu, tak berani mengubahnya. (Yg takut cuma satu mangku lingsir Mangku Bedugul sane dados mangku kawitan). Kenapa dulu leluhur tiyang memindahkan piodalan kalau gede? Karena odalan gede harus mendak tirtha ke Pura Dasar Gelgel. Transportasi jaman itu sulit, berangkat pagi, tiba bisa malam di Pujungan, naik bus yang terbatas. Jadi tak bisa odalan gede persis di pemacekan Agung. Sekarang tak ada kendala, mendak tirtha pagi, siangnya sudah pulang. Bahkan mendak tirtha tengah malam karena carter mobil, pagi sudah sampai. Kenapa harus memindahkan piceket odalan? Jadi aneh, tegak odalan kok pindah-pindah, alit di Soma Pemacekan Agung, ageng di Selasa Manisne. Apa bethara gak bingung "otonannya" dipindah2? Nah itu yang terjadi.Malih siki Gurun Dian (Wayan Suita), anggen merembug ring desa. Tri Kahyangan di Pujungan tak jelas piceket odalannya. Kapan piceket di Dalem, kapan di Puseh/Bale Agung, di Prajapati, di Bedugul. Yang jelas di Puseh/Bale Agung ring Purnama Kapat. Menurut Jero Dalang sane pernah jadi adat, piceket di Dalem harusnya Purnama Kedasa, katanya sudah pernah dilaksanakan tapi tak rutin. Pura Dalem itu sumber yang tak bisa diremehkan, harus taat dgn piceket odalan. Sekarang ada anggapan, toh Purnama Kapat piodalan seluruhnya, Dalem juga katuran, Batur juga dllnya. Tak bisa begitu. Pada piodalan Kapat, Pura Dalem hanya dapat samperan saat Munggah Sedah, setelah itu paling pratima yang diusung. Yang bernama piodalan, sejak mecaru, ke beji, merejang, nedunang bethara, sampai nyineb harus di satu tempat. Oya satu lagi, mumpung ingat, kok tak pernah berpikir soal NGENTEG LINGGIH. Puluhan tahun atau jangan2 ratusan tahun tak pernah NGENTEG LINGGIH, padahal renovasi Pura Dalem hampir 90 persen dirombak dan kini juga Pura Puseh. Kok tak ada berpikir soal ngenteg linggih? Kalau Linggih Ida Bethara tidak tegteg, odalan seageng2ne ten mepikoleh nugraha. Coba dirembugkan secara informal sambil mekedekan. Kalau NGENTEG LINGGIH harus Pura Dalem dulu, karena itu yg pertama direnovasi. Ada biaya lagi baru Pura Puseh. Jgn Pura Puseh duluan nanti pilih kasih. Jangan juga ngenteg linggih sekaligus, tak bisa. Upacara nyeje setiap pura. Ngenteg Linggih tak harus yang besar, yang penting sesuai menurut aturan sastra. Sekadi nganggen kuwace, paling bagus pake jas. Ten meduwe jas, batik. Ten meduwe batik baju biasa, yang penting bersih. Inggin wantah curhat, ampura akeh pisan.
Ritual di Bali
Ayah, setiap hari kita mempersembahkan sebentuk keindahan (bunga, dupa
dan air) pada Tuhan . . .sebenarnya utk apa semua ritual itu?
. . . . . . . . . . . . .
Nak, semua ritual keagamaan sebenarnya adalah 'pendisiplinan external menuju kesadaran internal'.
Jika kita terbiasa dgn tulus mempersembahkan sebentuk keindahan pada Tuhan , maka semua itu akan membangun kesadaran dalam diri untuk selalu melaksanakan persembahan yg sebenarnya dalam kehidupan yaitu : 'mempersembahkan kebahagiaan hidup (kasih sayang, melayani, menolong dll) kepada Tuhan yg bersemayam di seluruh ciptaanNya , nak !'
selayaknya kita sbg Bhakta Tuhan, mewujudkan Bhakti kita kehadapan Beliau, selanjutnya apa yang kita lakukan n Kerjakan adalah sebuah Prema Pelayanan kepada Tuhan dan sesama, Swasti Purnama
Persembah itu akan kembali ke kita karena dupa dan bunga serta air adalah semacam teraphy ada aromaa teraphy warna dan teraphy air RAhayu pak dokter
. . . . . . . . . . . . .
Nak, semua ritual keagamaan sebenarnya adalah 'pendisiplinan external menuju kesadaran internal'.
Jika kita terbiasa dgn tulus mempersembahkan sebentuk keindahan pada Tuhan , maka semua itu akan membangun kesadaran dalam diri untuk selalu melaksanakan persembahan yg sebenarnya dalam kehidupan yaitu : 'mempersembahkan kebahagiaan hidup (kasih sayang, melayani, menolong dll) kepada Tuhan yg bersemayam di seluruh ciptaanNya , nak !'
selayaknya kita sbg Bhakta Tuhan, mewujudkan Bhakti kita kehadapan Beliau, selanjutnya apa yang kita lakukan n Kerjakan adalah sebuah Prema Pelayanan kepada Tuhan dan sesama, Swasti Purnama
Persembah itu akan kembali ke kita karena dupa dan bunga serta air adalah semacam teraphy ada aromaa teraphy warna dan teraphy air RAhayu pak dokter
Selasa, 09 September 2014
Bali, the last paradise....
Bali...
Bali dengan budayanya
Bali dengan aneka seni tariannya
Bali dengan ritual upacaranya
Bali dengan toleransinya
Bali dengan keindahan alamnya.
Bali sudah swajarnya disebut pulau dewata, pulau surga, pulau seribu pura, pulau taksu...
Bali, the last paradise....
Bali dengan budayanya
Bali dengan aneka seni tariannya
Bali dengan ritual upacaranya
Bali dengan toleransinya
Bali dengan keindahan alamnya.
Bali sudah swajarnya disebut pulau dewata, pulau surga, pulau seribu pura, pulau taksu...
Bali, the last paradise....
Minggu, 20 Juli 2014
Rindik bambu
Dear beauty there is no need of thanks . You have also a beautyfull heart . You are real beauty queen
Rabu, 16 Juli 2014
Kendaraan murah di Bali
Jika liburan sekeluarga tentu paling praktis nyewa mobil Rp. 400.000/hari
tapi kalau bertualang sendirian lebih baik naik kendaraan umum. pemerintah Bali menyediakan kendaraan umum murah amaaaaatttt bahkan gratis
Penginapan murah di Bali
Sebelum berangkat ke Bali hubingi dulu kami disini atau ke 74e4557e / 085338052930 pastikan bisa komunikasi langsung.
cari kosan yg lengkap tempat tidur biasanya Rp. 500.000/bulan
Langganan:
Postingan (Atom)








