Label
- Bahasa Bali
- Belajar
- berjapa
- bisnis online
- cinta
- English course
- fashion
- Fun Math
- Hindu Universal
- Jalan-jalan ke Bali murah meriah
- kecantikan wanita
- Kedai O'onk
- Kedai O'onk news
- Kesehatan Alami
- Mahabharata
- Masakan Arab
- Masakan Indonesia
- masakan vegetarian
- Motivasi
- oleh-oleh khas Bali
- Pesta
- Pesta Pernikahan
- puisi
- resep masakan jepang
- sastra
- Scient
- suka - suka
- toko kue cs
- tradisi
- tradisi Bali
- Yoga
Tampilkan postingan dengan label tradisi Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi Bali. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 Desember 2014
sweet galungan
happy sweet galungan day have a great diner pals
selamat hari raya galungan makan makanan yang paling enak
bahagia manis hari Galungan memiliki sahabat restoran besar
Rahasia hidup yg suksek dan bahagia terletak pada melakukan apa yg perlu dilakukan saat ini . Kita tidak perlu cemas akan masa lalu dan masa depan . Kita tak dapat kembali ke masa lalu untuk membatalkan apa yg telah kita kerjakan . Kita juga tidak dapat mengantisipasi semua yg akan terjadi pada yg akan datang . Karena kondisi duniawi yg terus menerus berubah dan tidak bisa ditebak . Hanya satu momen yg bisa kita kendalikan secara sadar , yaitu " saat , ini .!
Jumat, 05 Desember 2014
Angayubagia
Om svastyastu.
Angayubagia ring manah sekadi tityang
Sampun ledang ida nak lingsir nundun
Ring kawentenan tityang ...
Suksma lan sembah nuhun ida...
Dumugi saking pasuecan embang
Pasuecan sang hyang parama kawi
Sareng sami mepikolihang kerahayuan. RAHAJENG RAHINA PURNAMA
NGIRING SARENG SAMI MESWADHARMA AGAMA kesarengin meswedharma laksana lan slalu idep ring raga swang swang..
Angayubagia ring manah sekadi tityang
Sampun ledang ida nak lingsir nundun
Ring kawentenan tityang ...
Suksma lan sembah nuhun ida...
Dumugi saking pasuecan embang
Pasuecan sang hyang parama kawi
Sareng sami mepikolihang kerahayuan. RAHAJENG RAHINA PURNAMA
NGIRING SARENG SAMI MESWADHARMA AGAMA kesarengin meswedharma laksana lan slalu idep ring raga swang swang..
Selasa, 02 Desember 2014
Genitri/tasbih
setiap agama memiliki tasbih, Budha : 108, hindhu : 108, Islam : 99 kristen :..?
tapi yang menjadi pertanyaan adalah: kenapa 108, kenapa nggak 77, atau 88 atau 999, atau 111... kayaknya seru dibahas disini.
mari kita buka URIP panca Wara (umanis, paing, pon, wage, kliwon yang terletak di timur, selatan, barat, utara dan tengah, dengan aksara: SA (samodaya), BA (bamadewa), TA 9tatpurusa, A (aghora) dan I (ishana), yang selanjutnya disebut panca aksara, yang menempati: papusuhan/jantung, hati, Limpa, Ampru, tuntung hredaya. pengurip : SANG = 5, BANG = 9, TANG = 7, ANG = 4, Ing : 8, kemudian dijumlahkan: 5+9+7+4+8 =33, biasanya menjadi gelang...gunili..
setiap Mantra biasanya akan selalu ada:ang, ung, mang (di bolak balik tergnatung keperluan) yang mengandung arti 3 kekuatan potensial yaitu: penciptaan, pemelihaaran dan Peleburan.
begitu juga Genitri atau japamala ini akan terdiri dari: 1 putaran = 33 utk penciptaan, 1 putaran utk pemeliharaan/menahan = 33, 1 putaran utk melebur/lepas = 33, jadi 33+33+33 = 99, ini baru utpeti, stiti, pralina, kemudian 9 lagi putaran masing2 dewata nawasanga sebagai pasupati, sehingga genap 108. inilah genitri sesuai dengan putaran arah mata angin atau penguriping dewata nawasanga,..
iswara di urip dengan aksara Sang x 5 letak dipapusuhan sbg utpeti
brahma diurip dengan aksara Bang x 9 letak di hati sebagai utpeti
mahadewa diurip dengan aksara tang x 7 letak di limpa sebagai utpeti
wisnu diurip dengan aksa Ang x 4 letak di ampru, sebagai utpeti
siwa (bhatara guru) di urip dengan Ing x letak di tungtunging hredaya sebagai utpeti,
selanjutnya sama, tapi sebagi stiti,
selanjutnya sama sebagi pralina/lepas,
selanjutnya 9 dewata penjaga mata angin sebagai pemasupati,
semoga selamt dan di jaga dari hal2 negatif dari Gaib...
jadi, Geenitri atau japamala sebenarnya bukan hanya sekedar alat menghitung Japa atau mengulang ulang nama tuhan, tapi justru utk membangkitkan energi dalam tubuh agar senantiasa sehat,..
Senin, 01 Desember 2014
Ngaben
UNTUK MEMBEDAH TENTANG NGABEN KITA HARUS MENGUPAS SASTRA INI
"yama purana...Ada empat lontar utama yang memberi petunjuk tentang adanya upacara Pitra yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa (mengenai sesajen yang
digunakan),
Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat pembebasan atau
pencarian atma dan hari baik-buruk melaksanakan upacara),
Yama Purwana
Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk rerajahan kajang), dan
Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau sarana upacara).
(red. Dewa Aribawa"
YANG PUNYA DAN TAHU TAMPILKAN ISINYA
KEMUDIAN BISA DISKUSIKAN SEBAGAI PEMBELAJARAN POSITIF
"yama purana...Ada empat lontar utama yang memberi petunjuk tentang adanya upacara Pitra yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa (mengenai sesajen yang
digunakan),
Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat pembebasan atau
pencarian atma dan hari baik-buruk melaksanakan upacara),
Yama Purwana
Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk rerajahan kajang), dan
Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau sarana upacara).
(red. Dewa Aribawa"
YANG PUNYA DAN TAHU TAMPILKAN ISINYA
KEMUDIAN BISA DISKUSIKAN SEBAGAI PEMBELAJARAN POSITIF
Minggu, 30 November 2014
Upacara Pawintenan
Upacara Pawintenan
Pengertian
Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain.
Kata mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yakni: mawa, dan inten. Mawa artinya: menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mewinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral sehingga patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama; bila dikemudian hari mediksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.
Siapakah yang boleh mawinten ?
Semua orang terutama yang sudah memasuki masa wanaprastin asrama. Wanaprastin asrama adalah masa seseorang sudah melewati gryahasta asrama yaitu masa berkeluarga, atau sudah mempunyai istri, dan anak-anak. Ketika anak-anaknya sudah mandiri, disitulah saatnya ia memasuki masa wanaprastin. Biasanya sudah berusia 50 tahun keatas.
Siapakah yang wajib mawinten ?
Yang belajar Weda, membuat banten, mekidung, wajib mawinten dengan tataban banten Saraswati.
Yang menjadi pemangku di Sanggah Pamerajan, pregina tarian sakral, undagi, pengayah Sulinggih, wajib mawinten dengan tataban banten Bebangkit.
Yang menjadi pemangku di Pura atau Kahyangan Tiga, Jero Gede, Jero Bhawati, Jero Dalang, wajib mawinten dengan tataban banten Catur.
Makna banten tataban pawintenan
Banten tataban pawintenan bermakna sebagai penuwur Ida Bhatara yang dimohonkan sebagai pemberi kewenangan dan pesaksi atas upacara pawintenan. Bila menggunakan banten Saraswati, kita memohon kehadiran Bhatari Saraswati sebagai shakti Brahma. Bila menggunakan banten Bebangkit kita memohon kehadiran Bhatari Durga sebagai Dewi Uma, shakti Bhatara Siwa. Bila menggunakan banten Catur kita memohon kehadiran Bhatara Catur Dewata yakni: Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Makin tinggi tingkat tataban pawintenannya, maka makin beratlah kewajibannya melaksanakan yama dan niyama brata. Mengenai pengertian yama-niyama brata, harap baca tulisan saya tentang Satyam, Siwam, Sundaram.
Urutan upacara pawintenan
Sudah melakukan upacara manusa yadnya lengkap bagi pasangan yang mawinten
Nyumbah kedua orang tua yang masih hidup. Ini dilakukan karena bila nanti sudah mawinten dia tidak boleh nyumbah layon (bila ortunya meninggal dunia)
Mapiuning dan nunas panugrahan di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura yang dipandang perlu
Mejauman ke Nabe yang akan melaksanakan upacara pawintenan
Urutan Upacara pawintenan
Mabeakala, tujuannya: mensucikan stula dan atma sarira tahap pertama.
Mapetik (mepotong rambut), tujuannya: mensucikan stula sarira, dan memberi tanda adanya peningkatan status sebagai manusia yakni dari seorang walaka menjadi seorang ekajati.
Merajah, tujuannya: menstanakan aksara-aksara suci (modre) di anggauta tubuh tertentu, sebagai persiapan nuwur Ida Bhatara pesaksi.
Matemayut, tujuannya: mengikat panca mahabhuta dan panca tan matra yang ada di tubuh ybs. dengan norma-norma agama: trikaya parisuda, yama-niyama brata, waspada pada musuh-musuh: sad-ripu, sapta-timira, dasa-mala, dll.
Masalempang, tujuannya: meresapkan makna kesucian skala dan niskala.
Me-sangga-urip, tujuannya: menyiapkan kedudukan Ida Bhatara pesaksi di Siwa-Dwara
Mapadamel dengan sad rasa, tujuannya: menyiapkan sang mawinten agar mampu menjalani kehidupan yang baik/tentram, yakni: tahan menderita (rasa pahit), tahan pada kesusahan (rasa asam), tidak mudah marah (rasa pedis), disiplin (rasa sepet), suka belajar (rasa asin), dan tidak sombong bila berhasil (rasa manis)
Mejaya-jaya, tujuannya: memohon kesucian Sapta-Gangga, yakni cipratan tirta siwamba, sebagai symbol kesucian tujuh sungai suci di India: Gangga, Sindu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu
Metapak, tujuannya: menstanakan Bhatara di Siwa Dwara sang mawinten, dan sebagai tanda (tapak) maka Nabe meletakkan padma angelayang di ubun-ubun (siwa dwara) sang mawinten.
Makarowista, tujuannya: mengukuhkan pe-tapakan dengan symbol Ongkara
Makalpika, tujuannya: memohonkan umur panjang bagi sang mawinten
Mabija, tujuannya: memohon panugrahan Bhatara Wisnu agar sang mawinten hidup makmur dan sejahtera.
m. Masamadi, tujuannya: natab banten pawintenan, dan mohon wara nugraha Bhatara.
Berpuasa
Selama tiga hari setelah upacara pawintenan, ybs. wajib berpuasa “mutih” yakni dengan hanya memakan nasi putih dengan air dari bungkak nyuh gading.
Masida Karya dan Matirta yatra
Sore dihari ketiga, sang mawinten natab banten sida karya sebagai tanda berakhirnya prosesi upacara mawinten. Setelah masida karya, esoknya dilanjutkan dengan matirta yatra ke Pura-Pura atau tempat suci menurut keyakinan dan tradisi masing-masing warga.
tejasurya centra rahajeng semeton YBN.
Pengertian
Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain.
Kata mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yakni: mawa, dan inten. Mawa artinya: menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mewinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral sehingga patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama; bila dikemudian hari mediksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.
Siapakah yang boleh mawinten ?
Semua orang terutama yang sudah memasuki masa wanaprastin asrama. Wanaprastin asrama adalah masa seseorang sudah melewati gryahasta asrama yaitu masa berkeluarga, atau sudah mempunyai istri, dan anak-anak. Ketika anak-anaknya sudah mandiri, disitulah saatnya ia memasuki masa wanaprastin. Biasanya sudah berusia 50 tahun keatas.
Siapakah yang wajib mawinten ?
Yang belajar Weda, membuat banten, mekidung, wajib mawinten dengan tataban banten Saraswati.
Yang menjadi pemangku di Sanggah Pamerajan, pregina tarian sakral, undagi, pengayah Sulinggih, wajib mawinten dengan tataban banten Bebangkit.
Yang menjadi pemangku di Pura atau Kahyangan Tiga, Jero Gede, Jero Bhawati, Jero Dalang, wajib mawinten dengan tataban banten Catur.
Makna banten tataban pawintenan
Banten tataban pawintenan bermakna sebagai penuwur Ida Bhatara yang dimohonkan sebagai pemberi kewenangan dan pesaksi atas upacara pawintenan. Bila menggunakan banten Saraswati, kita memohon kehadiran Bhatari Saraswati sebagai shakti Brahma. Bila menggunakan banten Bebangkit kita memohon kehadiran Bhatari Durga sebagai Dewi Uma, shakti Bhatara Siwa. Bila menggunakan banten Catur kita memohon kehadiran Bhatara Catur Dewata yakni: Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Makin tinggi tingkat tataban pawintenannya, maka makin beratlah kewajibannya melaksanakan yama dan niyama brata. Mengenai pengertian yama-niyama brata, harap baca tulisan saya tentang Satyam, Siwam, Sundaram.
Urutan upacara pawintenan
Sudah melakukan upacara manusa yadnya lengkap bagi pasangan yang mawinten
Nyumbah kedua orang tua yang masih hidup. Ini dilakukan karena bila nanti sudah mawinten dia tidak boleh nyumbah layon (bila ortunya meninggal dunia)
Mapiuning dan nunas panugrahan di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura yang dipandang perlu
Mejauman ke Nabe yang akan melaksanakan upacara pawintenan
Urutan Upacara pawintenan
Mabeakala, tujuannya: mensucikan stula dan atma sarira tahap pertama.
Mapetik (mepotong rambut), tujuannya: mensucikan stula sarira, dan memberi tanda adanya peningkatan status sebagai manusia yakni dari seorang walaka menjadi seorang ekajati.
Merajah, tujuannya: menstanakan aksara-aksara suci (modre) di anggauta tubuh tertentu, sebagai persiapan nuwur Ida Bhatara pesaksi.
Matemayut, tujuannya: mengikat panca mahabhuta dan panca tan matra yang ada di tubuh ybs. dengan norma-norma agama: trikaya parisuda, yama-niyama brata, waspada pada musuh-musuh: sad-ripu, sapta-timira, dasa-mala, dll.
Masalempang, tujuannya: meresapkan makna kesucian skala dan niskala.
Me-sangga-urip, tujuannya: menyiapkan kedudukan Ida Bhatara pesaksi di Siwa-Dwara
Mapadamel dengan sad rasa, tujuannya: menyiapkan sang mawinten agar mampu menjalani kehidupan yang baik/tentram, yakni: tahan menderita (rasa pahit), tahan pada kesusahan (rasa asam), tidak mudah marah (rasa pedis), disiplin (rasa sepet), suka belajar (rasa asin), dan tidak sombong bila berhasil (rasa manis)
Mejaya-jaya, tujuannya: memohon kesucian Sapta-Gangga, yakni cipratan tirta siwamba, sebagai symbol kesucian tujuh sungai suci di India: Gangga, Sindu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu
Metapak, tujuannya: menstanakan Bhatara di Siwa Dwara sang mawinten, dan sebagai tanda (tapak) maka Nabe meletakkan padma angelayang di ubun-ubun (siwa dwara) sang mawinten.
Makarowista, tujuannya: mengukuhkan pe-tapakan dengan symbol Ongkara
Makalpika, tujuannya: memohonkan umur panjang bagi sang mawinten
Mabija, tujuannya: memohon panugrahan Bhatara Wisnu agar sang mawinten hidup makmur dan sejahtera.
m. Masamadi, tujuannya: natab banten pawintenan, dan mohon wara nugraha Bhatara.
Berpuasa
Selama tiga hari setelah upacara pawintenan, ybs. wajib berpuasa “mutih” yakni dengan hanya memakan nasi putih dengan air dari bungkak nyuh gading.
Masida Karya dan Matirta yatra
Sore dihari ketiga, sang mawinten natab banten sida karya sebagai tanda berakhirnya prosesi upacara mawinten. Setelah masida karya, esoknya dilanjutkan dengan matirta yatra ke Pura-Pura atau tempat suci menurut keyakinan dan tradisi masing-masing warga.
tejasurya centra rahajeng semeton YBN.
Langganan:
Postingan (Atom)



























