Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2015

Lalat dan Semut










Lalat dan Semut
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar," katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.
Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, "Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?" "Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras, berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.
"Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?"
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama." Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini."
"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda."
oleh Sugi Sastrawan

Rabu, 03 Desember 2014

pantun

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding




Jumat, 28 November 2014

Sang kala

Rupa rupa mayadwipa
Tak hingga pula ribu warnanya
Jauh jua jatuh pandangnya
Tak bayang pula luas ukurnya
Datang ,diam, pulang, datang
Begitu setiap kala waktu
Waktu demi waktu
Tahun windu dan tak jemu
Itu dunia,,,ku dan mu
Kusebut mimpi dibawah mimpi
Ndak mimpi diatas mimpi
Bagaimana jua kau sebut ?











Minggu, 23 November 2014

Puisi cinta

Bukalah hatimu
krena cinta slalu membuka kesempatan
bicaralah krena cinta bukan hanya sentuhan
Bagaimana kau tau aku mencintaimu???
kalau kau bahkantak tau apa yang kurasakan

Jumat, 21 November 2014

seperti

ADA ORANG YG SEPERTI AKSARA TERUKIR DIATAS KARANG; MEREKA CEPAT JADI MARAH DAN MENYIMPAN KEMARAHAN ITU DALAM HATI UNTUK WAKTU YG LAMA .
ADA JUGA ORANG YG SEPERTI GORESAN SURAT DI ATAS PASIR ; MEREKA MARAH JUGA ,NAMUN KEMARAHAN ITU CEPAT BERLALU.
ORANG YG LAIN SEPERTI HURUF YG DITULIS DI PERMUKAAN AIR ; MEREKA TIDAK MENYISAKAN GORESAN HURUF APA PUN . TAPI ORANG YG SEMPURNA SEPERTI SURAT DITULIS DI ANGIN; MEREKA MEMBIARKAN HAL-HAL YG MENYAKITI DAN MENGHINA TAK TERACUHKAN ; PIKIRAN MEREKA MURNI TAK TERUSIK


Jumat, 14 November 2014

jangan sembarangan

Berapa undangan yang telah berasil di sebarkan ke seantero jagad raya? tanya sang raja kepada punggawanya
"banyak tuan', persiapan, tempat acara, juga kita sudah siap di ribuan lokasi," jawab punggawa dengan yakin sembari membolak balik buku undangan di tangannya.
bagus! siapkan segala kemudahan2 untuk menyambut kedatangan mereka nanti, dan pastikan mereka di sambut dengan baik, sebab mereka akan menguntungkan kita dalam sektor ekonomi dalam bentuk pundi2 investasi mreka di wilayah kerajaan kita, di wilayah manapun mreka ber iventasi, biarkan!!!
''tapi endoro''? sela punggawa agak lancang..
''diam!" betak sang punggawa berat
"pokoknya ataur segalanya dan pastikan segalanya bisa di atur, dan saya tidak mau ada yang mengawasi kebijakan saya, paham!'' hardik sang raja.
"sungkem endoro!!" sahut sang bawahan dengan nada agak bergetar kecut, sembari mencoba memberanikan diri melanjutkan sela yang tertunda tadi..
"tapi tuan eh endoro.. em.. jika mreka di biarkan bebas beriventasi, em.. bukankah mreka akan sangat vital dan begitu mampu nantinya menyetir smua sektor penekonomian kita, mreka akan melancarkan aksinya untuk menguasai dan tentunya mreka akan merancang konstruksi kuat agar kita terus pertompang kepada mereka dan ahirnya kita tak bisa lepas dari cengkraman mreka, buktinya ladang emas, besi, timah kita endoro? kan sebagian besar di atur oleh para asing dan kita kesulitan memantaunya.
maaf endoro raja.. saya agak lancang mengutarakan pendapat, mengingat nenek moyang kita begitu mencintai negeri ini, menjaganya dengan gigih dari campur tangan negeri asing, tapi jika kita sekarang mengundang mreka dan merelakan roboh kokohnya tembok ke gigihan itu, bukankah kita akan kualat? kita akan di kutuk oleh leluhur kita?"
perlu di ingat juga endoro raja.. bahwa, ada banyak tempat pingit di negeri ini seperti laut kita, nenek moyang kita menjaganya selama ber abad abad haruskah nantinya di jaga dan diawasi orang asing? duh... gusti.. sungguh hamba merasa berdosa" sembari sungkem sang punggawa mencium tulus ibu pertiwi.
setelah raja mendengar pengakuan tulus punggawanya, wajah raja menjadi tegang namun tersembunyikan oleh raut air mukanya yang bersahaja cuek, namun di balik hatinya sang raja akan menitahkan dan dibentuknya punggawa punggawa bayangan khusus di bawah kontrolnya, mengingat penggawa sah kerajaan tak sejalan dengan titahnya







sejengkal cahaya bulan

di sejengkal cahaya bulan aku
memandang bayangmu bayangku
melayari danau kenangan
angsa sepasang
bunga-bunga melabuhkan tawa kita
hujan mericik-ricikkan surga
sebelum malang mengabarkan
perpisahan






sepanjang badai datang
kita erat bergenggeman
sepanjang halilintar menyambar
kita telak jadi arang
lalu nadi pun tak luput bertemperasan
menjelma irisan luka terbalut cuka
sungguh tak pernah ada airmata
hanya genangan darah
menetes-neteskan nestapa

Kamis, 13 November 2014

realita hidup

Dan inilah realita hidup yg sbnrnya...
Ketika pandangan luar menggerutu acuh padamu...
Sedagkan upayamu blumlah cukup dari kata maksimal....
Kamu hanya h0bi menarik diri...
Lantas bergerilya pada sepi dan sunyi...
Inilah pembuktian jika kesalahan letak hidup yg sbnrnya salah...
Kau putar balik alur hidupmu sendiri...
Yang pada nyatanya banyak kalangan tanpa enggan meny0r0timu dengan sgla bntuk prhatian yg kmu butuhkan....
Lantas kau abaikan...
Sekarang sudah tak lagi ada yg sudi...
Mau bilang apa??
Menyesal???
PERCUMA sayank...
PERBAIKILAH dan Renungkan...





rindu

Jika mata membutuhkan cahaya,
maka telinga membutuhkan suara.
Dan jika mulut membutuhkan
bahasa,
maka hati membutuhkan rasa.
Begitupun manusia yg
membutuhkan cinta,

maka aku membutuhkan kamu.
selamat malam kerinduan

Jepun

Alangkah indahmu wahai kamboja merah jambu.....
Sekalipun hanya beton yg kau cumbu....
Sekalipun saudaramu di Bali menikmati langit yg kerap biru....
Sekalipun tak ada rindu menggebu yg terwakili olehmu....
Indah dirimu selalu mempesonaku.
Sebab demikianlah apa adanya dirimu.






Selasa, 11 November 2014

mundur tidak berarti kalah

Aku pernah mencoba untuk selalu tegar menghadapi segala permasalahan hidup, seiring perjalanan waktu diiringi berbagai wira-wiri permasalahan yang datang silih berganti ternyata tidak semuanya masalah tersebut dapat dihadapi dengan mengandalkan ketegaran semata.
Ada kalanya kita harus sedikit mengalah dengan menahan langkah untuk mengulur waktu demi mengatur ritme permasalahan sesaat sebelum bersikap, karena langkah mundur tidak berarti kalah atau lari tetapi justru dapat menguntungkan kita untuk lebih fokus melihat sekeliling dan jernih dalam memutuskan langkah maju selanjutnya.
Mengalah bukan berarti kalah sebaliknya takkala maju tanpa perhitungan yang benar-benar matang bisa jadi merupakan langkah bunuh diri yang tidak disadari sebelumnya.












,,,,Tea Time,,,,
mendekatlah sayang...
Lupakan sejenak kisah yang penuh dengan sorotan,
kita jeda dari semua mata,
menafakuri indahnya rinai gerimis
menikmati hangatnya secangkir teh yang ku suguhkan..
Dan kita mereguknya bergantian.

Sudahlah..
Jika hari ini harus ada tangis dari beratnya beban yang engkau dapatkan,
terimalah dengan hati lapang.
Tak perlu sembunyikan tangis dalam senyuman..
Biasa saja..
Bila ada yang tak suka,
Tak usah bersandiwara..
Inilah kita...









Senin, 22 September 2014

Kata-kata mutiara

Om swastyastu
Merayakan sebuah keberhasilan itu baik....
Tetapi memaknai sebuah kegagalan itu lebih penting

Minggu, 21 September 2014

Langit

bahkan seorang yg mendapat ilmu dari langit pun msh memiliki sisi malam yg begitu kelamnya sehingga hanya mereka yg memiliki mata batin seterang matahari bisa melihat bercak awan legam di hitam gelapnya,

Selasa, 09 September 2014

pantun

buah kelapa d mkan semut...kepalaku cenut cenut..

The most amazing


Everything happens for a reason
We're don't meet peoples by accident
They're meants to cross our path for a reason
Miracle always happens to many life on this earth
Such as my life, Once in my life that's I ever meet the man
In pic stand next to me, The most amazing is he's look a like
My own father very much indeed also I'll never get tired to write
To mention bcos is really true, Sometime I have a million question
In my soul, What Where When Why and How the answers is go back
And read the 3 first line on top there you go is the answer by & from God
Shri Babaji Guruji Dr.Mind, my Beloved Daddy, One of the man that's I do
Love, Faith, Trust, Believe, with my pure soul and I'm so bless to Beloved
By kindness soul of Babaji Guruji Dr.Mind, Beloved Daddy Panaam Ji

Minggu, 31 Agustus 2014

Hiburan

Turun hujan di jimbaran,,,,,,
Pulau Bali indah menawan ,,,,,
Ini pantun cuma hiburan ,,,,,,,
Biar hati nggak kesepian,,,,,,,!


 Turun hujan di Denpasar ,,,,,,
Pulau Bali pulau impian ,,,,,
Ini pantun pelipur gusar ,,,,,,,
Biar sedih ngga ketahuan ,,,,,,,

Sabtu, 19 Juli 2014

beragama tradisi




TRADISI yang ada dan berkembang di masyarakat Hindu banyak sekali dikaitkan dengan ajaran agama, seolah-olah tradisi itu sulit dipisahkan dengan agama. Hal ini tak hanya ditemui di Bali, juga di daerah lain, bahkan termasuk India, di mana agama Hindu itu sendiri berawal.
Ada sebuah kisah unik yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagaimana tradisi itu dipelihara padahal tak ada kaitannya dengan ajaran agama. Kisah ini terjadi di masyarakat India kelas bawah yang pendidikannya masih rendah. Yakni adanya kebiasaan setiap melakukan yadnya besar maka orang yang beryadnya selalu mencari seekor kucing untuk dimasukkan dalam kurungan. Kalau keluarga itu tak punya kucing, ya, harus meminjam kucing tetangga atau terpaksa membeli dengan mahal. Seolah-olah tanpa ada kucing yang dimasukkan ke dalam kurungan maka ritual itu tidak sah. Jika ditanya kenapa bisa terjadi hal seperti itu, tak seorang pun bisa menjawabnya. Semuanya menyebutkan itu tradisi yang sudah turun temurun. Kalau di Bali jawabannya: “nak mule keto uli malu” (memang begitu dari dulu).
Masih beruntung ada orang yang mau menelusuri tradisi ini. Syahdan, di masa lalu ada orang kaya yang melakukan yadnya besar. Keluarga ini pencinta binatang termasuk memelihara kucing. Pada saat persiapan yadnya sambil menunggu seorang yogi (pendeta) yang memimpin ritual itu, ternyata kucing peliharaan keluarga itu merusak banyak persembahan. Sudah berkali-kali diusir, kucing itu tetap saja kembali.
Ketika pendeta datang, beliau juga merasa konsentrasinya terganggu akibat kucing itu berkeliaran dengan bebasnya. Maka Sang Yogi memerintahkan tuan rumah untuk mengurung kucing itu. Nah, kucing itu pun dikurung tak jauh dari tempat Sang Yogi memimpin upacara.
Demikianlah seterusnya, setiap keluarga kaya itu melakukan yadnya, pasti kucing itu dikurung agar tidak mengganggu. Para undangan dari desa-desa yang jauh pun melihat kucing yang dikurung itu. Entah segan bertanya kenapa kucing itu dikurung, atau terlalu biasa melihat setiap yadnya ada kucing dikurung, orang-orang yang tak tahu juntrungannya mengira kucing yang dikurung itu adalah “perlengkapan upacara”. Artinya, setiap ada upacara harus ada “kucing yang dikurung”.
Hal itulah yang dicontoh terus-menerus, berkembang lewat pembicaraan ke segenap penjuru, bahkan kemudian menurun ke anak cucu. Akibatnya, kalau ada keluarga yang melakukan yadnya tetapi tidak punya kucing, dia harus mencari kucing dengan berbagai cara agar bisa dikurung di dekat Sang Yogi memimpin ritual.
Masih bisa disebut untung bahwa tradisi ini tidak sampai melanggar ajaran Hindu. Cuma repot saja harus mencari kucing yang tak ada dalam keharusan ajaran agama.
Di Bali banyak sekali tradisi yang tak ada kaitannya dengan ajaran agama, bahkan bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Banyak contohnya. Di tataran upacara, misalnya, sabungan ayam. Dalam ritual yang besar ada tabuh rah, artinya memercikkan atau menabur darah hewan. Memang sebelumnya ada yang diadu, yaitu kelapa dengan telur. Nah, orang lantas menganggap itu kurang meriah, maka ayam pun sebelum dipotong lehernya agar keluar darah, diadu sekedarnya. Lama-lama ayam itu diberi taji (pisau kecil di kakinya) dan jadilah sabungan ayam ditambah dengan bertaruh.
Pemerintah sudah melarang judi sabung ayam ini karena memang bertentangan dengan ajaran Hindu. Tetapi tradisi tabuh rah justru didompleng untuk judian itu. Saya pernah “muput karya” melaspas pura keluarga di kawasan Bangli, dari awal sampai akhir ritual di halaman pura keluarga itu justru ramai ada “tabuh rah”.
Yang tak melanggar tetapi merepotkan, misalnya, ketika ada anak yang ritual mecolong (usia 3 bulan) harus dikurung sejenak memakai kurungan ayam. Suatu saat saya yang memimpin upacara itu, kebetulan keluarga si anak memang tak menyiapkan kurungan ayam. Tiba-tiba ada keluarganya dari jauh datang: “Ini kurang lengkap, anak itu harus dikurung.” Wah, keluarga si anak kelabakan mencari kurungan ayam, tak ada yang bersih apalagi yang baru. Yang didapat kurungan kotor penuh debu. Saya langsung katakan: “Tak usah pakai dikurung, ini hanya simbol mengendalian diri sang anak.”
PHDI Pusat sejak Pesamuhan Agung di Yogyakarta tahun 1971 sudah memutuskan agar tradisi yang bertentangan dengan ajaran agama diluruskan kembali. Mari kita mulai mencobanya.

Jumat, 18 Juli 2014

rahasia sukses






KEBAIKAN MENOLONG SESAMA
Ayah adalah tipe pebisnis yang membuatku tak habis pikir. Jika kebanyakan orang berbisnis, tak ingin membagi resep rahasia, ataupun ilmu utamanya, Ayah justru sebaliknya. Ayah tak pernah pelit untuk berbagi ilmu, dari sekian pegawai yang dimilikinya, semuanya diajarinya untuk membuat sepatu. Tak ada satupun ilmu yang ia sembunyikan. Tak hanya itu, didorongnya mereka untuk lepas dan mandiri dari ayah.
Aku dan Mas Agus waktu itu sampai terheran-heran. Mendidik pegawainya untuk mandiri bukankah justru akan melahirkan pesaing baru bagi usaha Ayah?
Ayah menjelaskan konsepnya dengan satu kisah sederhana. Kisah yang masih aku ingat sampai sekarang. “Bapak pernah cerita ke kalian tentang kisah seorang petani jagung yang berhasil?” Aku dan Mas Agus hanya menggeleng.
“Alkisah ada seorang petani jagung yang sangat sukses.”, Ayah berhenti mengambil nafas sejenak. Aku dan Mas Agus pasang telinga, antusias mendengarkan.
Dengan nada layaknya seorang pendongeng ia melanjutkan, “Di negerinya, setiap tahun diadakan kontes jagung, untuk mencari petani mana yang menghasilkan jagung terbaik. Petani sukses tadi, dia sering memenangkan kontes jagung tersebut. Tak hanya sekali, namun berkali-kali dan boleh dikata, setiap kontes jagung diadakan petani inilah pemenangnya. Kalian tahu rahasianya?” Tanya Ayah ke arah kami.
“Pupuk rahasia?”, Mas Agus coba mejawab. “Bukan, bukan itu rahasianya. Suatu waktu seorang wartawan bertanya pada petani sukses ini, apa formula rahasianya dia bisa memenangkan kontes jagung tersebut sampai berkali-kali. Si petani menjawab, 'tak ada formula rahasia, aku hanya membagikan benih-benih jagung terbaikku kepada petani tetangga-tetanggaku”
“Lho, benih jagung terbaiknya kok malah diberikan ke tetangga? Tapi kok dia yang menang? Aneh!”, tanyaku.
“Itu dia kuncinya”, Ayah tersenyum. “Alin di sekolah sudah belajar IPA kan? Tentang tanaman yang punya serbuk sari dan putik?”
“Sudah” jawabku sambil mengangguk. “Kita tahu bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak, lalu menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain.”, tangan ayah bergerak-gerak bak seorang pendongeng.
“Coba bayangkan Jika tanaman jagung tetangga buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang petani sukses ini pun juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagungnya.” Kakakku manggut-manggut mulai paham.
Ayah melanjutkan “Sebaliknya jika tanaman jagung tetangga baik, maka serbuk sari yang dibawa angin dari ladang jagung mereka akan baik pula, disinilah bila kita ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, kita harus menolong tetangga kita untuk mendapatkan jagung yang baik pula.
“Begitu pula dengan hidup kita Nak. Jika kita ingin meraih keberhasilan, maka kita harus menolong orang sekitar menjadi berhasil pula. Mereka yang ingin hidup dengan baik harus menolong orang disekitarnya untuk hidup dengan baik pula. “, Ayah menutup ceritanya dengan bijak.






========oleh     OareSaga


Kamis, 17 Juli 2014

harapan




Mencoba berpaling dari kenyataan..
Tinggalkan kenangan bersama luka terdalam..
Berjalan melawan dinginnya angan..
Melintasi deburan ombak di tepi lautan..
Ku pandang awan hitam
Ku rasakan dinginnya angin malam..
Tiada lagi yang mampu kulakukan..
Tuk gapai kasih sayang yang dulu ku rasakan..
Kini hanya mampu berharap
Semoga dibalik kepedihan ini
Masih tersimpan jalan terang
Yang akan memuntunku demi kehidupan dimasa depan...

cinta



"Hargaiilah orang yang mencintaimu
Dia berkorban bukan untuk mengemis cinta
Tapii dia ingin menunjukkan betapa brharganya kamu dihatinya"